when the plates attacked…

Holaaa!! Akhirnya bisa menyempatkan diri untuk singgah ke blog yang mulai berdebu ini, hahahah –a

Kali ini saya ngga akan nangis lebay minta balik ke Bandung, ilmu fakultas ini sudah sukses mengikat saya agar tak jauh darinya :’) Saya cuma mau cerita-cerita kenangan manis semanis fruktosa selama semester keempat saya di kampus gajah. So, prepare yourself for an extremely looong story!

Image

Everything changed when the fire nation plates attacked…

Iya! Semua dimulai saat sepasang piring disodorkan pada saya di pertengahan tahun 2012. Saya yang sama sekali nggak ada niat untuk belajar piring (maksud penulis adalah “belajar tari piring” tapi nyebutnya enakan disingkat hehehe) mendadak ditarik untuk mulai belajar, tak lama setelah itu juga langsung ditarik untuk ngejar progress (karena saya terlambat sekitar 2 minggu dari teman-teman kebanyakan), beberapa minggu setelah itu langsung ditarik jadi calon personil OHU, dan beberapa minggu lagi setelahnya ditarik lagi jadi personil fix OHU 2012. Wakakaka, itu minggu-minggu yang serba di-push lah.

Untuk di UKM, bisa dibilang, dengan menyelesaikan (belum me-masterkan) tari piring, kamu akan memasuki dunia baru, dunia dimana kamu akan selalu dilirik ketika penari piring dibutuhkan dan kamu harus punya alasan yang jelas untuk menolaknya. Kejam? Nggak juga sih, nari piring tuh seru-seru aja soalnya hahaha.

Beneran seru! Musiknya selalu membuatmu ingin bergerak mengikutinya, jauh lebih seru jika kamu mengikuti dengan tariannya. Gerakan tarinya pun saling bersambung dengan apik, hampir tidak ada gerakan mendadak yang istilah sayanya “keluar alur”. Jika sudah menguasainya, jeda latihan yang cukup lama pun tidak akan menghambat refleks jemarimu untuk bergerak mengikuti musiknya 🙂

Well kembali ke cerita, jadi setelah resmi jadi personil dan tampil di OHU ITB 2012, saya tidak pernah jauh dari piring. 2 atau 3 minggu setelah OHU, saya kembali menjadi personil Acara Awal UKM ITB, alasannya? Mungkin karena para personil OHU ini dianggap masih “panas”, sehingga tidak banyak perubahan personil piring di acara awal tersebut. Namun setelah itu saya break dari penampilan cukup lama karena harus membagi waktu ke MPAB HMP dan tim kaderisasi UKM. Seperti yang saya katakan diatas, saya tidak pernah jauh dari piring. Sesekali saya ngejam di sekre, sesekali di kosan (sejak OHU, selalu ada 4 piring standby di kamar hahaha). Bukan untuk melepas rindu karena break nampil, tapi karena saya selalu tidak tahan untuk tidak menari ketika mendengar musiknya hahaha.

Dipinang 38production…

Di awal-pertengahan semester 3, saya diajak Ni Suci untuk jadi personil Pagelaran Dies Natalis 38 UKM ITB. Whew. Sebenarnya sempat di tanya mau jadi PJ suatu tari (bukan tari piring) atau jadi tim materi, dimana saya akan menjadi personil piring. Tapi Ni Suci-nya kalo ngga salah lebih ngarahin saya jadi personil piring, setelah berpikir ngga-terlalu-panjang (males juga sih mikir terlalu ribet) saya terima tawaran Ni Suci untuk jadi personil piring sekaligus tim materi. Ngga bakat jadi PJ soalnya hahaha. Sip, petualangan baru dimulai.

Berhubung saya hanya tim materi, Ni Suci tidak menuntut banyak (bahkan tidak ada, hahaha) di semester 3. Paling sesekali uni-nya ngomong “Tolong-tolong uni nyari gerakan buat galpas” (Tari Galombang Pasambahan), saya cuma ngangguk, uni-nya juga nyantai aja, tapi realitanya saya ngga ngasih ide sedikitpun –” Alhasil, karena buah tangan Ni Suci, galombang pasambahan dies 38 bener-bener mantiak (‘girly’ mungkin?) seperti sang PJ hahaha. Sialnya, sebagai tim materi saya ditunjuk untuk menjadi backup 1 buat galombang pasambahan, artinya jika ada salah satu personil galombang pasambahan yang berhalangan hadir, saya lah yang akan menggantikannya. Gubrak -___- Kenapa? Soalnya basic saya sama Ni Suci itu beda banget-nget-nget. Basic Ni Suci itu melayu sementara basic saya cendrung tageh (apa ya translatenya? mendekati basic laki-laki mungkin?). 2 basic yang berbeda 180 derajat. Hasilnya? Saya ditertawakan walaupun sudah berusaha keras memperlembut gerakan saya agar mendekati basic melayu –”

Hahaha itu sih salah satu cerita mirisnya jadi backup. Harus bisa menyesuaikan diri, terima apa adanya walaupun jauh berbeda dengan basic sendiri .__. Oh iya FYI, tim materi pagelaran kali ini bernama 38production 🙂

First step on Piring 38…

Oke masuk ke bagian yang paling menyenangkan, tentang piring dies 38 yeay!! Jadii pertama-tama mari kita lihat calon-calon personilnya…

6 calon personil cowok dan 4 calon personil cewek. Biasanya dalam proses dari calon personil menjadi personil fix, terjadi reduksi personil. Tapi lihat lagi lihat!! 4 calon personil cewek! Apanya yang mau direduksi coba -____- Ngga ada alasan buat main-main atau lenje-lenje, jika tidak ada aral melintang *tsaah*, Elfi, Ni Suci, Ni Dila dan saya akan terus bersama sampai pagelaran. Guess what? Diantara 4 personil itu, Elfi dan Ni Suci merupakan PJ pagelaran tahun ini (Elfi PJ piring & Ni Suci PJ galombang pasambahan), Ni Dila juga PJ saya di Tari Rantak di pagelaran tahun sebelumnya, jadi cuma saya, bocah-ingusan-yang-kejepit yang ngga pernah merasakan rasanya menjadi PJ hahaha. Selain 2 PJ dan 1 mantan PJ, tim ini juga punya keunikan lain. Di pagelaran tahun sebelumnya, Ni Suci dan Elfi menarikan Tari Kipeh yang basicnya melayu, sementara Ni Dila dan saya menarikan Tari Rantak yang basicnya tageh, 2 basic yang sangat berbeda. Di pagelaran tahun ini Ni Suci dan Elfi menjadi PJ, sementara Ni Dila dan saya menjadi tim materi, dimana PJ dan Tim Materi akan selalu bersama baik di rapat, sebelum mulai forum awal, sampai setelah forum akhir. Bisa dibayangkan betapa teletubbiesnya kami berempat, apa-apa fullteam, dan yang pasti, tidak ada rahasia diantara kita *eaaaaaaa*.

Oke sekarang mari bahas personil cowok, jadi dari keenam nama tersebut, hanya 3 yang maju menjadi personil fix, yakni Rahmat, Da Ikbal dan Da Zachlul. Sempat sedih sih, padahal espektasinya semua akan berjalan lancar karena ada 6 calon personil, tapi karena satu dan lain hal, demi kebaikan semua. Nah yang bikin degdegan kami para personil cewek, adalah siapa yang akan mengisi bangku keempat? Dan ternyataaa… Da Egy!! Kita berempat langsung semangat lagi sambil cekikikan. Da Egy awalnya merupakan calon personil Tari Garak Kambang, tapi akhirnya ditransfer ke piring dan meninggalkan ciwi-ciwi garak kambang yang pada cemberut ngga terima, huahahaha.

Jadi inilah tim terimut di pagelaran dies 38 karena hanya terdiri dari 8 personil; Elfi, Ni Suci, Ni Dila, Rahmat, Da Ikbal, Da Zachlul, Da Egy, dan saya. Tim yang 6 dari 8 nya merupakan kru 38production, bisa dibayangkan betapa “tidak ada rahasia diantara kita”-nya tim ini hahahaha.

Cerita-cerita dibalik Piring 38…

8 personil, dimana kedelapannya udah nempel sama piring sehingga PR utamanya adalah kualitas. Piring adalah tari yang menjual di UKM selain galombang pasambahan, hampir di setiap penampilan UKM selalu ada tari piring. Sehingga PR besar kita adalah menarikan tari piring dengan kualitas pagelaran. Begini, kalau misalnya tari lain selain piring dan galombang pasambahan, umumnya yang berubah hanya formasi dan sebagian gerakan, namun di piring dan galombang pasambahan, semuanya dirombak menjadi sesuatu yang wah. Sehingga di minggu-minggu awal latihan, masing-masing dari kami masih mencari dan mencoba gerakan baru yang lebih kreatif dan berbeda, alhasil yang kami tampilkan di review hanya tari piring biasa dengan sedikit perubahan formasi secukupnya karena belum bisa sembarangan ‘memasukkan’ gerakan baru yang masih sangat prematur, formasi itupun baru didiskusikan 15 menit menjelang review, hadoh -__-

Lucunya, diskusi formasi itu terkadang hanya antara cowok dan antara cewek, saya juga ngga ngerti sama Elfi dan Rahmat (para PJ piring) yang sama-sama stubborn suka diem-dieman -,- *personil durhaka wakaka*. Jadi biar ngga saling nabrak, kita main aman, dimana cowok menari di sisi luar dan cewek menari di sisi dalam, terserah deh itu mau ngapain asal jangan keluar area hahaha. Yang seru dari sistem PJ kami ini, kami saling tidak tau akan berpasangan dengan siapa nantinya. Iya, jadi di piring ini ada 2x momen berpasangan cewek-cowok. Karena tidak dikomunikasikan dengan jelas, ya tau pasangannya surprise pas nari aja. Nanti sehabis review, sambil kipas-kipas pake piring sambil ngatur nafas barulah kami yang cewek ngumpul sejenak. Ada yang kesel karena melakukan kesalahan atau menjatuhkan piringnya, ada yang nyantai aja, dan pasti ada yang ketawa puas karena berpasangan sama Da Egy. Sialnya saya jarang banget berpasangan sama Da Egy -,- Oh iya jangan mikir terlalu jauh dulu, ini cuma fangirling yang mewarnai serunya pagelaran dies 38 dari kami berempat hahaha.

Setelah perjalanan panjang menuju sebuah tari piring dengan level pagelaran, akhirnya kami mencapai formasi akhir yang fix. Tari yang cukup panjang (sangat panjang kalau bagi saya),sekitar 10 menit, terdiri dari gerakan awal, gerakan utama, sampai gerakan akhir. Awalnya saya dan Elfi sering berbisik-bisik mengenai tari ini, yah kami sempat ragu dan sangat takut dibilang “biasa”, sama saja seperti tari piring untuk penampilan standar UKM. Namun ternyata, apresiasi dari penonton dan uda-uni yang menonton malam itu benar-benar diluar dugaan, piring dianggap salah satu tari terbaik dan merupakan penutup yang pas di malam itu. Saya tidak tau harus berkata apa selain bangga pada tim ini, bangga pada PJnya, Elfi & Rahmat, pada Ni Suci, Ni Dila, Da Ikbal, Da Zachlul, dan Da Egy.

“Tidak ada rahasia diantara kita.”

Tim kecil ini sangat kompleks, tak jarang ada gesekan diantarannya.
Kita pernah melalui malam dingin penuh masalah bersama disaat personil lainnya sudah sampai di kamarnya masing-masing atau bahkan sudah tertidur pulas. Kita pernah melalui subuh bersama, dengan kantung mata gelap di sebuah restoran cepat saji. Kita pernah mencoba antimainstream dengan bangun pagi bersama pukul 05:30 walaupun baru melenggang dari kampus pukul 01:30 dini hari, lengkap dengan muka bantal masing-masing. Kita pernah saling diam, dimana hanya kebisuan yang mengisi. Kita pernah lelah, disaat emosi yang menguasai. Kita pernah meneteskan air mata bersama, disaat yang lain disibukkan dengan histeria detik-detik menjelang pagelaran…

Saya akan selalu mengingatnya, senyum yang tidak bisa menutupi lelah di wajahnya milik Elfi, senyum ceria Ni Suci yang bisa mensunyikan forum saat berubah menjadi tangis, moodynya Ni Dila, diam penuh misterinya Rahmat, posisi kuda-kuda Da Ikbal yang kepalanya rada dimiringin tapi khas, gadang-gadangnya (besar-besar?) gerakan Da Zachlul, sampai pucat saat menginjak piring dan saltingnya Da Egy. Semuanya terekam jelas dalam perjalanan 3 bulan itu. Lelah? Pasti. Namun kenangan manisnya masih membekas sampai saat ini :’)

Tari Piriang Malam Pagelaran Dies Natalis 38 UKM ITB

about a traditional dance

Image

Nggak pernah kebayang sebelumnya saya bakal belajar tari piring, apalagi menarikannya. Keliatannya kayak mudah aja bagi si penari untuk memainkan piring tersebut. Bahkan ada yang pake lilin kecil di tengah piringnya. Tapi setelah belajar bagaimana teknik memutar piring tersebut sesuai detail yang diterapkan di UKM, susaaah. Sendi pergelangan tangan, siku, dan bahu seakan janjian nggak bersahabat. Nyeri semua. Persis kayak latihan pertama di tari rantak dulu. Bedanya, kalau rantak kesiksanya itu otot paha dan otot betis, kalau piring ini nyiksa otot lengan. Hiks. Iyasih, beda tari beda dasarnya. Sama seperti ketika saya pertama kali belajar randai. Pas nyoba-nyoba pake galambuaknya seru sih, tapi sesudah latihannya… pinggang langsung nyeri parah kayak orang keseleo. Kalo jalan nyeri, duduk miring-miring nyeri, jalan nggak tegap nyeri, dan paling nyiksa itu pas pake kaos. Perjuangan untuk menjaga si pinggang tadi itu loh 😥

Nah balik ke piring tadi, awalnya saya udah pulang ke Bukittinggi. Bukan liburan, tapi ada proyek rahasia*ceile. Seusai proyek, tanpa pikir panjang saya langsung balik lagi ke Bandung karena saat itu libur semester baru berjalan 3 atau 4 minggu dari 3 bulan libur panjang akhir tahun ajaran. Niatnya cuma nolong di kepanitiaan OHU, apalagi waktu itu ada job danus kaos UKM dan saya dipercayakan untuk mengurus kaos tersebut mulai dari mencari desain. Eh ternyata diajak untuk latihan tari piring. Rada ciut sih awalnya, soalnya temen-temen yang lain udah pada dasar ke-sekian, sementara saya bener-bener baru ‘megang’ si piring. Ketinggalan beberapa minggu sih.

Tapi minggu demi minggu berlalu, libur panjang saya tahun lalu Alhamdulillah bisa diisi dengan kegiatan positif. Mulai dari belajar tari piring, belajar gimana jualan kaos dari nol, belajar brainstorming di kaderisasi, sampai belajar hedon! Yak, di kepanitiaan OHU lah mulai terlihat mana yang hedon sejati di UKM 2011 hehehe. Dari yang awalnya malu-malu buat nari piring*berhubung sebelumnya saya belajar tari rantak yang notabene tari macho, eaaaaa, akhirnya saya mulai pede untuk membawakan tarian yang lumayan nyewek. Dan diakhir liburan panjang ini, terpilihlah saya menjadi salah satu personil yang akan tampil di panggung OHU 2012. Wow. Mimpi nih gue? Padahal setahun sebelumnya saya masih bergelut di dunia yang bersebrangan, dengan dogi dan sabuk sebagai identitasnya. Kuda-kuda, push up, sit up, back up, guling-guling, merayap, hobi main kaki kalau di arena*ups hihihi.

Dan sekarang, setahun lebih momen itu sudah berlalu. Dan saya masih mensyukuri keputusan saya untuk kembali ke Bandung dan menghabiskan liburan jauh dari rumah. Dari liburan itu saya bisa mempelajari salah satu dari warisan budaya bangsa ini. Sebuah tari yang membawa saya ke dunia baru yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mendekatkan saya pada orang-orang yang selama ini jauh, membawa saya ke dunia seni UKM. Tak percaya? Tentu saja! Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa tertawa, sedih, bahagia, pusing, lelah, sampai menangis bersama di tim materi pagelaran UKM. Dunia yang awalnya saya anggap sangat jauh itu ternyata malah mewarnai hari-hari semester 4 saya di kampus gajah. Alhamdulillah 🙂