InkTober 2014

Setiap Oktober, seniman di seluruh dunia berpartisipasi dalam InkTober Challenge yaitu dengan menggambar satu gambar yang menggunakan media gambar tradisional → tinta, setiap harinya sepanjang bulan. Jake Parker menciptakan Inktober pada tahun 2009 sebagai tantangan bagi dirinya sendiri untuk meningkatkan keterampilan menggambar dan inking sekaligus membangun kebiasaan positif dalam menggambar.

Kini InkTober telah tumbuh menjadi suatu challenge seluruh dunia dengan ribuan seniman berpartisipasi setiap tahunnya. Siapapun bisa melakukannya InkTober, cukup ambil pena dan mulai menggambar.

Aturan InkTober:

1) Membuat gambar dengan tinta (dapat didahului dengan sketsa pensil jika perlu)

2) Posting di social media; blog, tumblr, instagram, twitter, facebook, flickr, pinterest, deviantart, dan sebagainya, atau cukup menempelkannya di dinding

3) Hashtag dengan #inktober

4) Repeat

Catatan: Kamu dapat melakukannya setiap hari, atau dengan menggambar maraton lalu mempostingnya setiap hari. atau bahkan seminggu sekali, atau apa pun selama kamu konsisten. Karena INKtober adalah tentang menumbuhkan, meningkatkan dan membentuk kebiasaan gambar positif, sehingga semakin kamu konsisten, semakin baik.

Pada website Jake, kamu dapat menemukan daftar contoh tools yang dapat digunakan beserta contoh goresannya. Tahun ini saya menggunakan Kenko Hi-Tech-H 0.28, hanya pulpen biasa yang juga saya gunakan saat kuliah hahaha. Tapi walaupun nggak modal-modal banget, hasilnya lumayan lah, setidaknya bisa ikut menyemarakkan InkTober tahun ini. Penasaran? You can visit my DA here 😀

Jadi sudahkah kamu berpartisipasi dalam InkTober tahun ini? 😉

Advertisements

A Strong Woman is (not always) Strong

Barusan banget!! Pertama kalinya saya mengetahui betapa kilatnya pencopet beraksi. Nauzubillahiminzalik…

Kejadian sekitar pukul 20.00-20.30, berawal dari saat saya berniat membeli indomi di Indomaret Jl. Dr. Mansyur Medan, yang di seberang cafenya Jessica Iskandar. Berhubung keluar itu niatnya cuma ngisi pulsa di ATM dan beli indomi, jadi saya nggak pake tas dan dompetnya dipegang. Selama di motor, dompet saya simpan di bagasi motor, jadi kalau turun saya harus buka dulu joknya, ceroboh bin bodoh banget kan? Feeling saya udah super nggak enak untuk melakukan hal bodoh itu, tapi terlalu malas rasanya untuk membawa tas sandang mungil, dompet itupun terlalu tebal untuk dimasukkan ke kantong jaket atau celana (tebel gara-gara kartu-kartuan sih, kartu ATM lah, KTM lah, KTP lah, SIM & STNK lah, kartu transtud lah, dan beberapa kartu member supermarket, maklum hobi jajan –“).

Pas parkir dan mau masuk Indomaret saya ambil dompet di bagasi motor (kebodohan 1), muter-muter sebentar di bagian mi, setelah itu saya langsung keluar karena saya tidak menemukan Indomi yang dicari (Indomi Goreng Pedas, Indomi yang cukup langka sih), tentunya masih dengan memegang dompet tebel yang menggoda dengan sembrono (kebodohan 2). Pas di luar baru mau masukin dompet ke bagasi motor (kebodohan 3), ada tukang parkir yang sigap banget nyegat, padahal saya belum 2 menit parkir. Berhubung uang cuma di dompet, saya pun membuka dompet (kebodohan 4) dan mengambil uang 2ribuan. Sesaat setelah dompet dimasukkan ke bagasi dan sibuk mengeluarkan motor dari parkiran, saya mendengan suara mesin motor yang digas paksa. Ternyata 2 meter di kanan saya seorang perempuan dengan wajah shock memandang ke arah tangannya, sepertinya dompetnya sukses berpindah ke tangan sang copet. Tukang parkir yang tadinya fokus ke saya (agar saya tidak kabur tanpa bayar parkir pastinya) langsung ribut dan terkesan memprovokasi. Tapi anehnya, tidak ada inisiatif seseorangpun untuk mengejar si copet, termasuk si tukang parkir. Si bapak justru memperpanas suasana sekitar, entah karena takut dituduh sekomplot atau apa. Saya pun berusaha menjaga diri agar tetap fokus, siapa tau ada modus lain, seperti pengalih perhatian dan sebagainya. Tanpa pamitan apalagi cium tangan, saya pun segera memundurkan motor dan melaju tanpa dosa meninggalkan si tukang parkir. Di jalan saya langsung memastikan harta saya waktu itu yakni dompet dan hp, masih baik-baik saja pada tempatnya. Saya pun baru sadar kalau kabel headset melintang diluar outfit dari balik jilbab ke arah saku celana (kebodohan 5), Astaghfirullah… kurang menggoda apalagi coba buat maling, copet dan sebangsanya.

Alhasil sepanjang perjalanan yang-Alhamdulillah-nggak-jauh-dari-kosan, saya langsung nyebut-nyebut, berjanji nggak akan keluar malam kalau nggak bener-bener urgent, nggak akan melakukan kebodohan-kebodohan tadi lagi. Seberani-beraninya, setua-tuanya jadi perantau, selarut pagi apapun kamu pernah pulang, inget, kamu masih seorang cewek! Perempuan! Wanita! Target manusia-manusia kejam di luar sana. Dunia ini tidak aman teman, apalagi untuk kaum hawa. Ingat orangtua di rumah, menahan hati untuk merelakan anak gadisnya menuntut ilmu di negeri orang. Jangan balas pengorbanan lahir batin orangtua melepaskan mu dengan perbuatan-perbuatan bodoh yang tidak penting, apalagi membahayakan diri sendiri. Nauzubillahiminzalik…

My Kitchen Adventures

Loooong time no bake huhuhu. Ini deh nasib kalau di kosan, alat tak punya bahan tak ada~~

Hmm mungkin selama libur kemaren ada yang udah tau kalau timeline line & instagram saya itu hampir semuanya masakan, terutama cake. Yah soalnya kalau di rumah itu selain alat, bahan, dan dananya memadai, yang makannya pun ada. Soalnya saya hobinya bikin tapi kalau udah jadi cuma nyicip sedikit hahaha.

Nah dari postingan-postingan tersebut ada beberapa teman yang menanyakan bagaimana cara membuatnya. Saya sempet bingung sih mau dijawab gimana –” Tapi berhubung waktu itu jarang duduk lama di depan laptop saya pun sering malas untuk menceritakan bagaimana pengalaman masak di liburan kemaren *emang ada yang request gitu may?. Nah sekarang berhubung weekend dan lagi ada waktu, saya akan sedikit sharing tentang proses belajar saya di dunia baking selama libur semester lalu.

Semuanya dimulai dari nol. Bunda nggak terlalu suka baking, saudara pun nggak ada yang hobi baking, jadilah saya nyoba-nyoba resep mulai dari yang simpel dan yang saya suka. Yap! Salah satu penyemangat saya saat memasak adalah memasak sesuatu yang saya atau keluarga suka. Untuk pertama-tama saya berkutat di cupcake cokelat. Segala macam resep dan teknik masak pernah saya coba. Pernah oven biasa, pernah pake teknik au bin marie. Ini cupcake-cupcake buatan saya di awal libur, ngga ada cantik-cantiknya kan?

20140723_170155

Cupcake panggang biasa

CYMERA_20140721_165509

Cupcake dengan teknik au bin marie

Selain cupcake, saya mulai beralih ke dish lain yang non cake seperti…

1405262474448

Sandwich waffle kornet

1405262506052

Klappertaart

20140719_192055

Donat yang nggak ngebang sempurna juga ada…

C360_2014-08-05-22-11-28-494

Tiram goreng! Ini enak :9

CYMERA_20140716_194048

Spaghetti Schotel, karena Macaroni Schotel was too mainstream 😛

CYMERA_20140717_180009

Pie Cokelat yang penampakannya nggak beres, udah kayak telaga warna 😐

CYMERA_20140721_220419

Lemon Cupkies, wujud ala cupcake tapi rasa ala cookies hahaha 😛

20140803_130148

Cake Cokelat Rempah, capuraduk cinnamon, raisin, chocochips & almond.

Keliatan kan betapa amburadulnya kerjaan saya? Tapi Alhamdulillah saya masih pede-pede aja dan terus latihan, prinsipnya, tidak ada masakan yang sia-sia, yang gagal dijadikan pelajaran untuk masak berikutnya, eaaaaa hahaha. Nah makin sering latihan, saya makin pede untuk naik ke step berikutnya, yang lebih complicated…

C360_2014-08-07-00-13-36-371

Risoles, camilan yang proses masaknya jauh lebih lama dari proses makannya 😐

20140809_224613

Zebra Cake Putih Telur, harus sabar nuangin adonannya.

C360_2014-08-20-10-52-43-518

Risoles juga, tapi beda isi. Kali ini versi carb on carb hahaha.

CYMERA_20140727_194021

Lagi-lagi Risoles, tapi dengan tampilan yang jauh lebih cantik :3

Makin lama makin lama akhirnya saya berani buat bikin layer cake…

20140812_100150

African Gateau yang buruk rupa gara-gara belum mahir dalam dunia layer cake.

C360_2014-08-10-18-50-24-726

Blackforest Putih Telur minim krim (karena saya dan keluarga nggak terlalu suka krim)

C360_2014-08-13-15-05-12-875

Angel Cake with Blueberry Filling & White Chocolate Glaze Nama yang kemewahan untuk cake dengan modal bahan yang cukup murah meriah hahaha. Disini layer cakenya udah mulai cantik.

Untitled

Opera Cake, lagi-lagi minim krim gara-gara orang rumah ngga terlalu suka krim.

Dan akhirnya saya bisa mencapai salah satu target besar…

20140819_101251

Coffee Ombre Cake! Akhirnyaaa 😀

20140819_101441 20140819_101417

Waaa nggak nyangka hanya dalam beberapa minggu saya bisa mencapai Ombre. Berawal dari cake asal aduk & tampilannya nggak karuan, akhirnya saya bisa membuat layer cake yang cukup cantik untuk pemula seperti saya. Walau belum maksimal, tapi udah seneng banget hehehe.

Nah seperti itulah perjalanan masak-memasak saya selama libur kemaren, jadi buat yang nanya “Kok bisa? Gimana sih caranya may?” jawabannya simpel. Coba! Kalau masih awam sama dapur, lebih baik cari resep di culinary blog yang udah berpengalaman. Misalnya blognya Mba Hesti, Mba Diah Didi, Mba Ricke, atau blogger-blogger lainnya. Nggak susah kok, yang penting kemauan dan semangat pantang mundur walau bantat hahaha.

Okeee segitu dulu dari saya, semoga saya bisa segera masak-masak lagi, dan bisa berbagi lagi huehehe. Ja ne!

Derita Mahasiswa Kedokteran : Tips Buku Pegangan

Kali ini saya akan membahas tentang buku pegangan mahasiswa kedokteran. Selagi masih musim-musimnya mahasiswa baru nyari buku nih hehehe. Kenapa saya tiba-tiba ingin membahas ini? Karena buku pegangan bagi seorang mahasiswa kedokteran adalah setengah nyawanya! Memang sih sekarang udah banyak ebook berseliweran, mulai dari yang free sampai yang PHP. Artikel-artikel dari site terpercaya seperti medscape, ncbi, dan teman-temannya pun cukup menggoda para mahasiswa yang suka belajar secara shortcut, to the point. Kamu butuh patofisiologi DM, tinggal ketik aja di gugel, pilih referensi terpercaya, kalau butuh etiologinya, gugel lagi aja. Apa sih yang nggak bisa dari internet?

Tapi tetep aja, kurang greget rasanya kalau belajar nggak langsung dari buku. Ada aja nilai plusnya ketika kita harus membolak-balik buku ratusan atau bahkan ribuan halaman. Nah pasti ada aja yang galau dalam membeli buku, ini pengalaman saya dulu sih hehehe. Oke kalau kamu punya saudara dokter atau yang masih mahasiswa kedokteran juga, bisa dapet warisan buku. Atau Alhamdulillah orangtuanya berkecukupan untuk membeli Sobotta edisi terbaru yang harganya bisa buat nge-DP 2 motor sekaligus. Nah kalau nasib kamu seperti saya? Anak pertama yang masuk kedokteran, buta nggak ngerti masuk ke dunia apa. Orangtua sebenarnya tidak melarang saya untuk membeli seabrek buku pegangan dasar yang cukup penting (anatomi, histo, fisio, dll), namun secara tidak langsung saya seperti dituntut untuk cari akal agar tidak sembarangan mengeluarkan uang.

Alhasil buku yang pertama kali saya pikirkan adalah Atlas Anatomi Sobotta, buku super mahal tapi super penting. Ngeliat harganya aja udah bikin pengen puasa jajan 3 bulan. Awalnya niat nyari ebook atlas anatomi gratisan, tapi rasanya cukup impossible. Lalu saya mulai hunting ke berbagai toko jual beli online. Dari sekian banyak pilihan edisi, harga, dan penjual, saya akhirnya menemukan buku yang pas. Sobotta edisi 21 (edisi ungu) dari seorang dokter di Bali, waktu itu harganya 500ribu ditambah ongkos kirim 130ribuan. Total 600ribuan. Setelah berpikir panjang, berkali-kali melihat foto kondisi buku, plus ngepoin si penjual *ups hihihi* akhirnya saya memantapkan diri untuk membelinya. Beberapa hari kemudian buku tersebut sampai ke rumah dengan bungkusan paket yang rapi. Alhamdulillah, pemiliknya menjaga buku tersebut dengan sangat baik sehingga tidak tampak seperti buku bekas walaupun usianya sudah hitungan tahun, plus dipaket rapi dan kokoh. Dan demikianlah cerita Sobotta tersayang yang telah mengantarkan saya lulus ujian dan praktikum anatomi yang mematikan walau dengan nilai seadanya :’)

Nah beda Sobotta beda lagi dengan Histologi difiore dan Fisiologi Sherwood. Nah karena kedua buku tersebut adalah buku yang cukup krusial dan akan terpakai bertahun-tahun kedepan, bukan buku SD yang kalau naik kelas langsung nggak berguna kecuali kamu masih punya adik, saya pun memutuskan untuk membeli yang ori, bukan yang KW. Prinsipnya sih, belajar kedokteran itu berat, jangan diperberat dengan menggunakan buku yang kualitasnya merusak pandangan. Bayangin kalau pake Fisiologi Sherwood yang lumayan tebel itu, kalau KW, baru dipake beberapa bulan, penjilidnya udah hancur. Menghancurkan semangat belajar nggak sih? Jadi yah jangan pelit-pelit banget deh, cukup menabung beberapa puluh ribu lagi, kamu akan mendapatkan buku yang kualitasnya jauh diatas KW. Buku-buku itu kan bakal dipake lama bung! Tapi bukan berarti kamu harus lurus-lurus banget buat beli yang asli ke toko buku terkenal, cukup luangkan waktumu untuk hunting ke pasar buku, minta yang ori, lalu tawar dengan muka “Ah gue ngga butuh-butuh amat”, InsyaAllah kamu akan mendapat harga yang cukup miring. Oh iya sebelumnya jangan lupa cari tau dulu harga resmi buku tersebut di toko buku terkenal, biar nggak dikerjain pedagang bukunya, plus biar muka “Ah gue ngga butuh-butuh amat”-nya makin mantep hehehe.

Jadi intinya, usahakan kamu punya buku pegangan dasar, tapi jangan berpikiran sempit dalam mencari buku. Dengan sedikit usaha lebih, kamu bisa mendapat buku terbaik dengan harga yang termiring. Apa gunanya kamu nonton iklan tokobagus, tokopedia, berniaga dan sebagainya kalau kamu nggak pernah nyoba hunting kesana? Toh kalau penjualnya serius, pasti akan diladeni dengan baik. Jangan malu nanya-nanya kondisi buku, minta foto luar dan dalamnya, dan yang pasti nego! Jangan ragu beli buku bekas, soalnya buku-buku kedokteran itu kayak udah didesain untuk dipake lama, nggak mudah rusak (tapi kembali ke penggunanya lagi sih), kamunya aja yang musti pinter-pinter cari buku yang kondisinya masih oke. Terus kalau akhirnya memang ngga nemu second, belinya ke pasar buku, kayak Kwitang di Jakarta, Palasari di Bandung, Titi Gantung di Medan, dan lain sebagainya. Jangan ke toko buku terkenal, sayang aja sih, rentang harganya bisa puluhan ribu huehehehe.

Gitu aja sih tipsnya, terus tips tambahan, bukunya jangan lupa disampul, terutama yang softcase. Pake plastik meteran yang cukup tebal, ngelemnya pake selotip, jangan pake stapler, jangan tinggalkan kebiasaan awal tahun ajaran pas SD dulu hahaha. InsyaAllah bukunya akan lebih awet dan tetap menarik untuk waktu lama. Apa salahnya sedikit telaten untuk masa depan, mana tau bukunya bakal dipinjem saudara, junior, atau malah mau dijual hehehe ^^V