a forceful lady

Oke setelah beberapa postingan cukup berat kemaren, kali ini saya mau sedikit nyantai. Review pengalaman dengan 2 motor matic yang pernah dan masih mengisi hari-hari saya. Mungkin pertama bahas Skywave dulu.

Nama lengkapnya Suzuki Skywave 125 “Ultimatic“, sepeda motor skuter otomatis keluaran suzuki. Diluncurkan dalam 2 varian, versi standar SR (speed runer) dan spesial NR (night rider). Dan termasuk segmen skutik kelas menengah, sekelas dengan Yamaha Nouvo dan Honda Vario.

Meskipun sekelas dengan Nouvo dan Vario, ketiganya mempunyai cukup banyak perbedaan. Salah satunya di kapasitas mesin, dimana Skywave berkapasitas 125 cc, Nouvo 115 cc, dan Vario 110 cc. Well saya nggak akan bahas lebih jauh mengenai perbandingan ketiganya karena saya sendiri belum pernah mencoba Nouvo dan baru beberapa kali mencoba Vario. Saya menggunakan Skywave tahun 2009, edisi Night Rider II. Ada yang tau ciri khasnya NR II? Yap, warnanya! Body cokelat metalik dengan velg dusty gold, plus twin shock orange yang ngejreng. Whew. Selain cc nya yang sedikit diatas rival sekelasnya, paduan warna dan body-nya yang bongsor inilah yang membuat saya dan bunda jatuh cinta saat melihatnya (padahal ayah nawarin si mungil Spin, tapi istri dan anak gadisnya malah milih yang bongsor :v).

Astagaaa cantiknyaaa :’3

Sip, sekarang mari menilai plus minusnya dari penggunaan standar.

PLUS

  • 125 cc nya benar-benar terasa, balik dari tarikan maupun suara :v
  • Bongsor dari segala sisi, mulai dari lebar hingga panjang (panjangnya nyaris 2 meter), sangat cocok buat show off
  • Tampilan sporty tapi tetap elegan, berdiriin deh sama matic sekelasnya *tapi jangan diberdiriin deket PCX jugaa –“
  • Ingat, bongsor dari segala sisi, termasuk bagasi 17,7 liter-nya yang bisa muat helm full face, 5 kilo tomat atau 7 kilo mentimun (oke kalo ini kerjaan bunda saya)
  • Tarikan bawahnya berat sih, bawaan mager karena berat badan kali ya? :v Tapi kalau udah tarikan tengah sampai atas, Subhanallah liarnya, bikin nagih *inget orangtua mu nduuk
  • Velg yang juga lebih bongsor dari matic kebanyakan, 16 inch, sehingga menambah kesan gagah
  • Lampu belakang udah LED, tapi menurut saya biasa aja sih
  • Tangkinya juga bongsor, 4,7 liter
  • Nggak sepasaran matic lain :’) *no offense

 

MINUS

  • Suaranya nggak nyantai men, nggak bisa kalem deh kalo bawa ni motor
  • Ke-bongsor-annya tadi cukup menyusahkan bagi pengendara pemula (seperti saya waktu itu ._.)
  • Karena bagasinya bongsor, berefek ke bentuk dudukannya sehingga membuat pengendaranya tidak bisa duduk cantik, bagi yang pertama mengendarainya pasti sedikit merasa aneh
  • Boros ╥_╥ ada harga ada rupa, ada tarikan yang keren, ada rupiah yang melayang ╥_╥ pas jaman premium masih 4500 rupiah, sekali ngisi bisa 20 ribu ╥_╥
  • Tarikannya oke, tapi masih kalah oke sama matic injeksi
  • Ukuran velg-nya nggak mainstream, jadi jangan kaget kalau terkadang tidak tersedia di bengkel biasa
  • BERAT, kalau udah miring, berharap keajaiban aja deh motornya nggak sampai nyentuh tanah, kalopun memaksakan diri mungkin ekspresi muka udah kayak orang mau melahirkan :v
  • BESAR, bagi pengendara pemula mungkin akan sedikit susah dalam mengontrolnya

Yap, jadi yang keinget cuma segitu. Kesimpulan saya sih, kalau nyari sensasi bermotor di kelas matic, menurut saya Skywave udah oke banget apalagi untuk produksi yang udah start tahun 2007. Oke dari sisi penampilan dan peforma tarikan sedang sampai atas, like a forceful lady, elegan dan bertenaga. Tapi kalau dari sisi harga dan konsumsi bensin, mungkin sedikit lebih menguras dompet. Tergantung kebijaksanaannya masing-masing sih mau mentingin yang mana hihihi.

Okee mungkin sekian dulu reviewnya, terima kasih sudah membaca, ciao!

 

Images source:
http://jualmotor.info/jual-jual-suzuki-skywave-nr-125-cw-night-rider-ii-th-20082009-gress-mantab-pajak-panjang.php
http://i667.photobucket.com/albums/vv32/d3vent/DSC_0017.jpg

Tentang si BeAT

Hujan lebat tengah malam tadi ternyata berimbas pada banjir di pagi harinya. Baru kali ini saya dihadapkan dengan jalanan banjir 20-25cm disaat membawa motor. Iyanih ini perdana setelah sekian tahun bermotor. Saya diizinkan membawa motor selama di Bukittinggi, di Bandung sesekali. Tapi nggak pernah setinggi dan seluas ini dampaknya. Cukup jauh, sekitar 1-1,5 kilometer dari rumah dihadang banjir sebetis. Alhamdulillah rumah dan jalan depan rumah nggak kerendem, tapi tetangga di sebelah kiri udah disambut jalanan tergenang air di depan rumahnya. Nah untuk menuju kampus saya harus dan bener-bener harus menembus genangan tadi. Kalau nggak mau basah harus muter berkilo-kilo jauhnya, sementara saya keluar rumahnya agak telat, jam setengah 7 lewat :”
Kalau pake motor lama mungkin saya agak berani. Yah skywave cukup bongsor dan tinggi dibanding skutik lainnya. Tapi kali ini saya pake beat! Gubrak.
Saya nggak pernah bawa motor di Jakarta yang langganan banjir, jadi nggak tau berapa batas kemampuan motor, apalagi beat unyu ini. Sekitar 200m dari rumah udah dihadapkan dengan pengendara bentor yang mencoba menghidupkan motornya karena nekat nembus si banjir. Mampus mampus.
Bermodal nekad karena harus ngambil kartu ujian buat midterm, saya putuskan untuk nembus banjir karena ngeliat ada pengendara mio yang sukses ngelewatin banjir. Mio aja bisa, masa gue nggak? Eaaaa.
Setelah 800an meter jalan, banjirnya makin tinggi. Dari yang awalnya cuma 15an senti, jadi sekitar 20-25cm. Makin gemeter.
Di depan ada satu pick up dan satu supra. Keseimbangan dan manajemen gas harus dijaga biar nggak harus nyelupin sepatu ke banjir dan air tetap mengalir dari depan ke belakang motor sehingga ngurangin resiko air masuk lewat knalpot. Jadi menjaga motor biar tetep jalan walau pelan. Nggak lama kemudian si supra tadi menepi. Nah loh nah loh, kenapa nih? Ternyata motornya mogok. Mampuuus supra aja udah mogok, gimana gueee T—-T
Udah sekarang kalau sekali aja kaki kecelup ke banjir, fix pulang. Kartu ujiannya ntar aja huhuhu.
Sepanjang jalan cuma bisa ngucap-ngucap dan berusaha tetap di jalur tengah biar genangannya nggak terlalu tinggi. Alhamdulillah setelah 1-1,5 km, area kerendahannya udah lewat. Daaaan beat unyunya masih aman. Saluuuut. Padahal udah kayak nyebur ke kolam anak-anak gitu. Prestasinya lagi, beat ini bisa ngalahin supra, padahal itu supra baru loh. Huehehe.
Nggak kebayang sih kalau sampe motornya mogok. Belum pake plat nomor masa udah masuk bengkel. Malang banget kan? Tapi next time kalau banjir dan nggak kepepet banget mending jangan diterobos deh. Terutama yang motor sport injeksi. Kenapa? Soalnya ada kemungkinan air membasahi komponen listrik & komputer di mesin. Iyasih komponen itu udah dilengkapi kemampuan tahan air, tapi kalau lagi sial, berabe kan? Soalnya motor sport injeksi itu didesain untuk ngebut, bukan untuk berenang di banjir sehingga bisa dibilang, motor sport injeksi lebih rawan terhadap banjir dibanding motor sport biasa.
Tapiii hal ini nggak berlaku buat beat. Setelah googling karena takut si beat kenapa-kenapa, saya malah nemuin foto-foto ini

Giiilak. Si unyu ini masih bisa bertahan di genangan dengan kedalaman 30cm. Keceeeee. Ternyata beat masih bisa bertahan selama air nggak memasuki mesin lewat knalpotnya. Ngangguk-ngangguk deh buat motornya. Iyanih, beat FI memang lebih tinggi dan sedikit lebih sangar daripada pendahulunya. Jadi nggak takut banjir. Salut masbro. Nggak salah dakuw memilihmu ;*
Oh iya foto-foto beat tangguhnya dari sini, thanks 😀