Derita Mahasiswa Kedokteran : Tips Buku Pegangan

Kali ini saya akan membahas tentang buku pegangan mahasiswa kedokteran. Selagi masih musim-musimnya mahasiswa baru nyari buku nih hehehe. Kenapa saya tiba-tiba ingin membahas ini? Karena buku pegangan bagi seorang mahasiswa kedokteran adalah setengah nyawanya! Memang sih sekarang udah banyak ebook berseliweran, mulai dari yang free sampai yang PHP. Artikel-artikel dari site terpercaya seperti medscape, ncbi, dan teman-temannya pun cukup menggoda para mahasiswa yang suka belajar secara shortcut, to the point. Kamu butuh patofisiologi DM, tinggal ketik aja di gugel, pilih referensi terpercaya, kalau butuh etiologinya, gugel lagi aja. Apa sih yang nggak bisa dari internet?

Tapi tetep aja, kurang greget rasanya kalau belajar nggak langsung dari buku. Ada aja nilai plusnya ketika kita harus membolak-balik buku ratusan atau bahkan ribuan halaman. Nah pasti ada aja yang galau dalam membeli buku, ini pengalaman saya dulu sih hehehe. Oke kalau kamu punya saudara dokter atau yang masih mahasiswa kedokteran juga, bisa dapet warisan buku. Atau Alhamdulillah orangtuanya berkecukupan untuk membeli Sobotta edisi terbaru yang harganya bisa buat nge-DP 2 motor sekaligus. Nah kalau nasib kamu seperti saya? Anak pertama yang masuk kedokteran, buta nggak ngerti masuk ke dunia apa. Orangtua sebenarnya tidak melarang saya untuk membeli seabrek buku pegangan dasar yang cukup penting (anatomi, histo, fisio, dll), namun secara tidak langsung saya seperti dituntut untuk cari akal agar tidak sembarangan mengeluarkan uang.

Alhasil buku yang pertama kali saya pikirkan adalah Atlas Anatomi Sobotta, buku super mahal tapi super penting. Ngeliat harganya aja udah bikin pengen puasa jajan 3 bulan. Awalnya niat nyari ebook atlas anatomi gratisan, tapi rasanya cukup impossible. Lalu saya mulai hunting ke berbagai toko jual beli online. Dari sekian banyak pilihan edisi, harga, dan penjual, saya akhirnya menemukan buku yang pas. Sobotta edisi 21 (edisi ungu) dari seorang dokter di Bali, waktu itu harganya 500ribu ditambah ongkos kirim 130ribuan. Total 600ribuan. Setelah berpikir panjang, berkali-kali melihat foto kondisi buku, plus ngepoin si penjual *ups hihihi* akhirnya saya memantapkan diri untuk membelinya. Beberapa hari kemudian buku tersebut sampai ke rumah dengan bungkusan paket yang rapi. Alhamdulillah, pemiliknya menjaga buku tersebut dengan sangat baik sehingga tidak tampak seperti buku bekas walaupun usianya sudah hitungan tahun, plus dipaket rapi dan kokoh. Dan demikianlah cerita Sobotta tersayang yang telah mengantarkan saya lulus ujian dan praktikum anatomi yang mematikan walau dengan nilai seadanya :’)

Nah beda Sobotta beda lagi dengan Histologi difiore dan Fisiologi Sherwood. Nah karena kedua buku tersebut adalah buku yang cukup krusial dan akan terpakai bertahun-tahun kedepan, bukan buku SD yang kalau naik kelas langsung nggak berguna kecuali kamu masih punya adik, saya pun memutuskan untuk membeli yang ori, bukan yang KW. Prinsipnya sih, belajar kedokteran itu berat, jangan diperberat dengan menggunakan buku yang kualitasnya merusak pandangan. Bayangin kalau pake Fisiologi Sherwood yang lumayan tebel itu, kalau KW, baru dipake beberapa bulan, penjilidnya udah hancur. Menghancurkan semangat belajar nggak sih? Jadi yah jangan pelit-pelit banget deh, cukup menabung beberapa puluh ribu lagi, kamu akan mendapatkan buku yang kualitasnya jauh diatas KW. Buku-buku itu kan bakal dipake lama bung! Tapi bukan berarti kamu harus lurus-lurus banget buat beli yang asli ke toko buku terkenal, cukup luangkan waktumu untuk hunting ke pasar buku, minta yang ori, lalu tawar dengan muka “Ah gue ngga butuh-butuh amat”, InsyaAllah kamu akan mendapat harga yang cukup miring. Oh iya sebelumnya jangan lupa cari tau dulu harga resmi buku tersebut di toko buku terkenal, biar nggak dikerjain pedagang bukunya, plus biar muka “Ah gue ngga butuh-butuh amat”-nya makin mantep hehehe.

Jadi intinya, usahakan kamu punya buku pegangan dasar, tapi jangan berpikiran sempit dalam mencari buku. Dengan sedikit usaha lebih, kamu bisa mendapat buku terbaik dengan harga yang termiring. Apa gunanya kamu nonton iklan tokobagus, tokopedia, berniaga dan sebagainya kalau kamu nggak pernah nyoba hunting kesana? Toh kalau penjualnya serius, pasti akan diladeni dengan baik. Jangan malu nanya-nanya kondisi buku, minta foto luar dan dalamnya, dan yang pasti nego! Jangan ragu beli buku bekas, soalnya buku-buku kedokteran itu kayak udah didesain untuk dipake lama, nggak mudah rusak (tapi kembali ke penggunanya lagi sih), kamunya aja yang musti pinter-pinter cari buku yang kondisinya masih oke. Terus kalau akhirnya memang ngga nemu second, belinya ke pasar buku, kayak Kwitang di Jakarta, Palasari di Bandung, Titi Gantung di Medan, dan lain sebagainya. Jangan ke toko buku terkenal, sayang aja sih, rentang harganya bisa puluhan ribu huehehehe.

Gitu aja sih tipsnya, terus tips tambahan, bukunya jangan lupa disampul, terutama yang softcase. Pake plastik meteran yang cukup tebal, ngelemnya pake selotip, jangan pake stapler, jangan tinggalkan kebiasaan awal tahun ajaran pas SD dulu hahaha. InsyaAllah bukunya akan lebih awet dan tetap menarik untuk waktu lama. Apa salahnya sedikit telaten untuk masa depan, mana tau bukunya bakal dipinjem saudara, junior, atau malah mau dijual hehehe ^^V

Advertisements

4 thoughts on “Derita Mahasiswa Kedokteran : Tips Buku Pegangan

  1. hai kaaa. maaf aku boleh minta kontak kaka ga? banyak yg mau aku tanyain seputar buku kedokteran nihhh. maaf ka sebelumnya hehe makasih banyakkk

  2. Halo kak salam kenal aku nisa 🙂
    Oiya mau tanya kak, yang kakak beli itu 500 buat 3 buku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s